Proses Terjadinya Gempa Bumi

Salah satu proses terjadinya gempa bumi adalah lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar ketika bertumbukan dengan lempeng benua di zona tumbukan (subduksi) akan menyusup ke bawah. Gerakan lempeng tersebut mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi, perlambatan dari gerakan tersebut dapat menyebabkan penumpukan energi di zona subduksi dan zona patahan, akibatnya pada zona-zona tersebut akan terjadi tekanan, tarikan dan gesekan. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut dengan gelombang gempa bumi seperti yang terdapat pada gambar 2.2 dibawah ini :
proses-gempa

Penyebab gempa akibat peristiwa vulkanik, jatuhan/runtuhan massa batuan, ledakan konvensional dan nuklir serta dampak meteorit relativ jarang terjadi serta hanya berdampak pada daerah yang terbatas (Edy, dkk 2012). Lapisan paling atas bumi atau litosfer merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut dengan mantel. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfer padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Berikut ini adalah proses terjadinya gempa bumi seperti yang terdapat pada gambar lapisan bumi dibawah ini :

lapisan-bumi

Gambar diatas merupakan bentuk lapisan bumi, dimana terdapat inti dalam bumi, inti luar bumi, mantel dan kerak bumi, secara alami lapisan bumi ini selalu mencari keseimbangan, jika tidak terjadinya keseimbangan maka akan terjadi gempa, karena gempa tersebut dipicu oleh sobekan atau rupture dan mengakibatkan panasnya bumi akibat banyaknya energi yang terkumpul pada mantel bumi.

Penelitian di bidang mitigasi bencana alam khususnya gempa bumi juga telah banyak dilakukan sebelumnya, seperti penelitian yang dilakukan oleh Coburn dkk, (2002) dimana mereka menjelaskan bahwa untuk mengurangi risiko terjadinya korban jiwa dan kerusakan maka diperlukan respon yang terkoordinasi dengan baik ketika terjadi bencana. Selain itu perlu dilakukan perluasan sistem dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat atau organisasi tertentu, dimana masing-masing kelompok masyarakat dan organisasi tersebut nantinya dapat mengandalkan sumber daya dan kemampuan mereka sendiri pada saat terjadi bencana. Dan hal ini memerlukan susunan organisasi yang efisien dan sumber daya yang baik, staf dan prioritas tindakan berhubungan dengan waktu dan pemahaman tentang konsekuensi kemungkinan terjadinya bencana.